![]() |
MI Plus Mutiara Islam | Membangun Generasi Qurani Berprestasi |
Pernah suatu hari Abdullah ibnu Umar r.a datang ke Mekkah hendak melaksanakan umrah. Setibanya di kota mekkah penduduk segera mengerumuninya hendak bertanya tentang masalah agama, fikih, meminta fatwa atau nasehat. Maka Ibnu Umar r.a segera berseru
“ Sungguh aku merasa heran dengan kalian. Kenapa kalian meminta fatwa kepadaku sementara ditengah tengah kalian ada Atha bin Abi Rabah”. Siapakah sebenarnya Atha bin Abi Rabah yang begitu di muliakan oleh Ibnu Umar dalam hal kefakihan atas ilmu ilmu agama.? Ternyata dia seorang Ulama Tabi’in hasil didikan dari Sahabat Nabi yang mulia yaitu Ibnu Abbas r.a.
Pada awalnya Atha bin Abi Rabah adalah seorang budak dari negeri Habsyah. Majikannya seorang wanita penduduk kota Mekkah. Meski sebagai budak Atha bin Abi Rabah tidak lalai dalam berinadah kepada Allah dan juga menuntut ilmu. Dia membagi waktunya menjadi tiga bagian: Satu bagian untuk majikan perempuannya, mengabdi kepadanya dengan sebaik-baik pengabdian dan memberikan hak-haknya dengan sempurna. Dan satu bagian dia jadikan untuk Tuhannya. Waktu ini dia gunakan untuk beribadah dengan sepenuh-penuhnya, sebaik-baiknya dan seikhlas-ikhlasnya kepada Allah. Dan satu bagian lagi dia jadikan untuk mencari ilmu. Dia banyak berguru kepada sahabat-sahabat Rasulullah SAW yang masih hidup, dan menyerap ilmu-ilmu mereka yang banyak dan murni. Majikannya juga mengetahui potensi keilmuan yang ada pada diri Atha bin Abi Rabah sehingga ia diperkankan selalu hadir dimajelisnya Ibnu Abbas.
Seseorang pernah menceritakan bahwa Imam Atha bin Abi Rabah pernah mendatangi Khalifah Hisyam bin Abdul Malik. Kemudian Amirul Mukminin menyambutnya dengan ramah dan mempersilahkannya duduk di tempat yang paling bagus.Kemudian Hisyam menghadap kepadanya dan berkata, “Apa keperluan anda wahai Abu Muhammad(Atha bin Abi Rabah)?” Atha berkata, “Wahai Amirul Mukminin Penduduk Makkah dan Madinah adalah penduduk Allah dan tetangga Rasul-Nya, berikanlah kepada mereka rizki-rizki dan pemberian-pemberian. Maka Hisyam menjawab, “Baik, Wahai ajudan; Tulislah untuk penduduk Makkah dan Madinah pemberian-pemberian dan rizki-rizki mereka untuk waktu satu tahun.
Kemudian Hisyam berkata, Apakah ada keperluan lain wahai Abu Muhammad?.” Atha berkata, “Ya wahai Amirul mukminin, penduduk Hijaz dan penduduk Najd adalah inti arab dan pemuka Islam, maka berikanlah kepada mereka kelebihan sedekah mereka.” Maka Hisyam berkata, “Baik, wahai ajudan, Tulislah, bahwa kelebihan sedekah mereka dikembalikan kepada mereka.”
“Apakah ada keperluan lain selain itu wahai Abu Muhammad?” Ya wahai Amirul mukminin, Kaum muslimin yang menjaga di perbatasan, mereka berdiri di depan musuh-musuh anda, dan mereka akan membunuh setiap orang yang berbuat jahat kepada kaum muslimin, maka berikanlah sebagian rizki kepada mereka, karena kalau mereka mati, maka perbatasan akan hilang.”
Maka Hisyam berkata, “Baik, wahai ajudan, tulislah, supaya dikirim rizki kepada mereka.” “Apakah ada keperluan lain wahai Abu Muhammad?”
Atha berkata, “Ya, wahai Amirul mukminin; Orang-orang kafir dzimmi supaya tidak dibebani dengan apa yang mereka tidak mampu, karena apa yang anda tarik dari mereka adalah merupakan bantuan untuk anda atas musuh anda.”
Maka Hisyam berkata, “Wahai ajudan tulislah untuk orang-orang kafir dzimmi, supaya mereka tidak dibebani dengan sesuatu yang mereka tidak mampu.”
“Apakah ada keperluan lain wahai Abu Muhammad?
Atha berkata, Ya, Bertakwalah kepada Allah di dalam diri anda wahai Amirul mukminin, dan ketahuilah bahwa anda diciptakan di dalam keadaan sendiri. dan anda akan mati didalam keadaan sendiri…dan anda akan dibangkitkan di dalam keadaan sendiri dan anda akan dihisab dalam keadaan sendiri dan demi Allah tidak seorang pun dari orang yang anda lihat bersama anda.”
Maka Hisyam menyungkurkan wajahnya ke tanah dan menangis, lalu Atha berdiri dan meninggalkan Khalifah beserta pengawalnya.
Ketika telah sampai di pintu, ternyata ada seseorang yang mengikuti Atha dengan membawa kantong, dan orang itu berkata kepadanya, “Sesungguhnya Amirul mukminin mengirim ini kepada anda.” Maka Atha berkata, “Maaf aku tidak akan menerima ini.”
“Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan-ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam ” (Asy-Syuara’, ayat:109)
Demi Allah, Sesungguhnya Atha menemui Khalifah dan keluar dari sisinya tanpa meminum setetes air pun.
Sungguh beruntunglah masyarakat yang ditengah tengah mereka hidup orang alim dan zuhud seperti Atha bin Abi Rabah rahimahullah. Asbab keberkahan orang alim ini maka dunia tetap terjaga dan amal amal agama tetap langgeng mengikuti sunnah RasulNya.
MI Plus Mutiara Islam Surabaya, telah memposting kembali kisah ini .